KONSUMSI IKAN GABUS DAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA MASA POSTPARTUM: SCOPING REVIEW LITERATUR
Keywords:
Channa striata, ikan gabus, luka perineum, postpartum, scoping reviewAbstract
Latar Belakang. Luka perineum merupakan salah satu masalah pada persalinan pervaginam yang dapat memengaruhi kenyamanan, meningkatkan risiko infeksi, serta memperlambat proses pemulihan pada masa postpartum. Penyembuhan luka perineum dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kecukupan nutrisi, terutama protein dan albumin yang berperan penting dalam regenerasi jaringan dan sintesis kolagen. Ikan gabus (Channa striata) dikenal sebagai sumber protein dan albumin tinggi serta secara tradisional banyak dimanfaatkan di Indonesia untuk membantu pemulihan luka. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk memetakan dan mensintesis bukti ilmiah terkait efektivitas konsumsi ikan gabus terhadap percepatan penyembuhan luka perineum pada ibu postpartum. Metode: Desain penelitian scoping review dengan pendekatan rapid evidence review menggunakan pedoman PRISMA-ScR. Pencarian literatur dilakukan melalui data base PubMed, EBSCO, dan search engine Google Scholar untuk artikel yang dipublikasikan pada periode 2015–2025. Kriteria inklusi meliputi penelitian primer pada ibu postpartum dengan luka perineum, intervensi berupa konsumsi ikan gabus atau ekstraknya, serta luaran penyembuhan luka. Data dianalisis secara deskriptif dan disintesis secara naratif. Hasil: Hasil penelitian diperoleh 10 artikel eligible. Mayoritas studi menunjukkan bahwa konsumsi ikan gabus dapat mempercepat penyembuhan luka perineum dibandingkan kelompok kontrol, dengan penurunan waktu penyembuhan sekitar 2–3 hari serta perbaikan skor REEDA. Satu studi melaporkan hasil tidak signifikan, yang diduga dipengaruhi oleh durasi intervensi yang singkat dan keterbatasan metodologis. Kesimpulan: Konsumsi ikan gabus efektif dalam mempercepat penyembuhan luka perineum pada ibu postpartum dan berpotensi menjadi intervensi nutrisi komplementer yang aman, terjangkau, dan sesuai dengan budaya lokal. Penelitian lanjutan dengan desain uji acak terkontrol masih diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah.

